Gadis Muda, Cantik dan Berhijab Keliling Dunia Sendirian

Anissa Syifa Adriana
Anissa Syifa Adriana.

Belakangan ini, wanita. yang melakukan kegiatan backpacker semakin banyak. Hal itu seolah menjadi tren tersendiri. Padahal, tak mudah melakukan sebuah perjalanan ke negeri asing seorang diri. Apalagi jika si wanita menggunakan hijab.

Tak jarang banyaknya stigma negatif yang melekat terhadap perempuan terutama islam yang mengenakan hijab dan melakukan perjalanan jauh ke negara lain.

Namun, seorang wanita berusia 25 tahun asal Indonesia, bernama Anissa Syifa Adriana berhasil menjadi inspirasi karena memiliki keberanian dan tekad dalam menghadapi stigma tersebut untuk menjelajahi negara-negara baru.

Anissa yang juga merupakan seorang YouTubers ini mengaku kegiatan ini pun dianggap masyarakat sebagai suatu hal yang mewah. Belum lagi adanya kondisi bahwa orang tuanya yang belum pernah menginjakkan kaki di negara orang.

Kemudian hingga, satu hari seorang rekan kerjanya menceritakan pengalamannya mengenai Couchsurfing. Sebuah komunitas yang menggagas ide untuk mengundang seseorang untuk tinggal dan menunjukkan kota mereka sendiri demi persahabatan baru.

Selama perjalanan yang dilakukannya sejak Agustus tahun lalu, ia pun banyak menemukan hal yang bisa dibilang kurang mengenakkan. Mulai dari ketidaknyamanan orang dengan penampilannya. Ada pula orang yang sedikit enggan untuk menatapnya ketika sedang berbicara. Selain itu, adanya waktu yang sedikit lebih lama ketika ia melewati pengecekan di pos imigrasi.

Belum lagi cemoohan masyarakat muslim lainnya terkait tindakannya yang melakukan perjalanan wisata sendiri. Tak hanya itu, sebuah video perjalanan yang diunggahnya ke akun YouTubenya. Ia pun sempat menerima kritikan, karena dalam video itu ia menyentuh bahu supirnya yang seorang laki-laki.

Tak jarang, wanita yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai abdi negara ini, harus menerima setidaknya satu komentar penuh kebencian pada setiap salah satu vlognya. Meski demikian ia pun tidak merasa perlu untuk menanggapi ini.

"Saya berdiri dengan bagaimana saya mempraktikkan iman saya sendiri. Plus, ada hal penting yang perlu dikhawatirkan daripada menyentuh lengan orang lain," ungkapnya.

Pada saat yang sama, ia pun merasakan kewajiban untuk mematahkan stereotip tentang pandangan terhadap muslim dengan mengenakan kerudung dalam perjalanannya.

"Ketika orang melihat jilbab saya, mereka segera menghubungkan saya dengan agama, yang bisa menjadi hal yang sangat berat. Media telah menggambarkan orang-orang yang terlihat seperti saya sedemikian rupa sehingga memicu ketakutan dan banyak kesalahpahaman di antara orang lain," tulisnya.

Ia melanjutkan, selain dihubungkan dengan terorisme dan pembom. Stereotipnya wanita yang berhijab tidak diizinkan meninggalkan negara itu sendiri.

"Saya mendapat banyak pertanyaan tentang posisi wanita di Indonesia, dan beberapa orang terkejut bahwa kita diizinkan untuk bekerja dan mengemudi," ujarnya dilansir dari laman Refinery29.

Ia pun mengungkapkan, perjalanannya selama enam bulan ke berbagai negara di Asia Tenggara benar-benar memberdayakannya. Ini tak lain karena dirinya ingin menunjukkan kepada orang-orang tidak semua wanita muslim seperti itu.

"Saya bangga dengan budaya saya dan saya bangga menjadi teman Muslim pertama dari banyak pelancong ini," tegasnya.

Some may think that living and working abroad is so much nicer than being in our home country. For the most part it is due to the fact that we earn a lot more money as we are considered as foreigner. Working & living abroad also allow us to have different lifestyle while also immersing in totally different culture. Yes, it is somewhat true. However, a lot goes beyond that. One has to understand that to legally live in different country, we have to go through a lot of procedures with complicated bureaucracy depending on each country's policy. After that, to move to a different country (especially if alone), it requires a lot of mental strength and persistency. This is due to the fact that, being in a total foreign country with different language as well as cultures can be stressful at times. From the most simple thing of ordering food to showing your way back home to the taxi driver can become daunting tasks. Last thing, working abroad sometimes equals to improved working ethics. Some countries have better working ethic than the ones you have back home, some not. No matter where you are, having a good working ethic is necessity. Especially when working abroad, you are expected to work and perform better since you are paid higher than your local co-workers, for the skills that you possess. This is a self-reminder after enormous extra working hours. Despite of it all, I am still grateful for this privilege. I hope you can all achieve something that you desire in life. Blessings to you.
A post shared by Anissa Syifa Adriana (@syifaadriana) on

Ia pun bercerita meski demikian, dengan menggunakan hijab ia pun merasa dihormati. Hal ini dirasakannya ketika berada di Filipina. Seorang tuan rumah Couchsurfing yang memindahkannya ke Couchsurfing tunangan temannya yang seorang muslim.

Ini dilakukan pria tersebut tak lain karena ia menghormati kenyataan bahwa dia laki-laki dan dirinya adalah seorang wanita Muslim.
Loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gadis Muda, Cantik dan Berhijab Keliling Dunia Sendirian"

Posting Komentar